Menampik Anggapan Perempuan yang Selalu Mulia dan Lemah Lembut Melalui Serat Babad Tutur


Ilustrasi perempuan dalam jawa-Gijsvanbilsen-pixabay

JURNALIS INDONESIA - Bahasan mengenai "Perempuan" seolah menjadi topik yang selalu diminati. Mulai dari lagu, puisi, film, banyak dari karya tersebut terinspirasi dari peristiwa yang melibatkan Perempuan.

Bagaimana tidak, setiap kali membicarakan perempuan tak akan jauh dari kata Feminisme, Patriarki, Kesetaraan Gender dan satu hal yang sensitif yang belakangan naik ke permukaan, yaitu kekerasan seksual.

Dalam tulisan ini, pembahasan mengenai perempuan dicermati melaui kacamata budaya Jawa, lebih tepatnya lewat naskah Jawa kuno.

Pasti banyak yang berpikir bahwa budaya Jawa hanya berisi seputar ritual musyrik, kejawen, kuno dan tak relevan dengan topik bahasan ini. Anda salah kaprah. Justru, budaya Jawa memberikan ruang yang lebar bagi topik perempuan.

Dalam naskah Jawa kuno, sistem patriarki masyarakat Jawa pada abad ke-18 menggambarkan kedudukan yang rendah daripada laki-laki. Pandangan masyarakat terhadap eksistensi perempuan tidak lebih dari sekedar 'kanca wingking', ‘swarga nunut neraka katut’ (surga numpang neraka ikut), serta perumpaan 'dapur, kasur, sumur'.

Dengan kata lain, masyarakat Jawa abad ke-18 masih mendudukkan perempuan dalam posisi inferior dan terjadi hierarki gender yang sangat kuat. Gambaran mengenai perempuan Jawa, nampaknya sudah terpola menjadi satu struktur budaya.

Sebenarnya banyak naskah Jawa kuno yang menceritakan perempuan dalam berbagai sisi. Tak hanya itu, ajaran perempuan dalam naskah juga Jawa memperkuat konstruksi sosial-budaya hierarki gender, seperti ajaran yang terdapat pada Serat Candra Rini, Serat Sandi Wanita, Serat Dharma Wasita, Serat Nitisastra, Serat Wulang Putri, Serat Centhini Jilid II dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, terdapat salah satu naskah Jawa yang memposisikan perempuan berbeda dari naskah lainnya. Naskah tersebut bernama Babad Tutur, yang mana ditulis sendiri oleh Magkunegara I, seorang raja di Kartasura.

Babad Tutur berisi tentang sikap seorang raja yang notabene memiliki jabatan tertinggi di suatu negara memposisikan perempuan dengan berbeda.

Mangkunegara I memberikan posisi yang cukup mengejutkan pada perempuan, yaitu sebagai prajurit. Jika banyak perempuan dalam naskah jawa digambarkan sebagai sosok mulia, lemah lembut, dan istimewa, hal ini tak berlaku dalam Babad Tutur.

Mangkunegara I mencoba memberikan kesan tangguh dan kuat pada perempuan. Poisisi perempuan sebagai prajurit estri, pasukan tempur, dan penjaga istana tak serta merta mereka dapat perlakuan khusus dari yang lainnya.

Hampir tak ada bedanya, Prajurit estri tersebut memiliki penampilan yang sama dengan para prajurit laki-laki lainnya.

Dari sisi kemampuan, prajurit estri juga tak jarang mengundang decak kagum dari masyarakat bahkan para tentara Belanda. Hal ini sebagaimana dituturkan dalam kutipan Babad Tutur berikut:

Cingak eram kang mulat/ kebat acukat tarampil/ gawok katemben kang mulat/ miwah upruk wong kumpeni/ gedheg-gedheg ningali/ estri lir prajurit kakung/ tanah Jawi tan ana/ kang kadi Pangran Dipati/ sasampune sadaya sampun umangkat// (BT, Sinom, bait 6, hlm. 107b)

Terjemahan:

Tercengang mereka yang melihatnya, lincah, cekatan dan terampil, semakin terheran-heran yang melihatnya, Kumpeni, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya dalam melihat, prajurit wanita seperti prajurit pria, di seluruh tanah Jawa tidak ada, yang menyerupai prajurit wanita seperti Prajurit wanita binaan Pangeran Adipati Setelah menyaksikan ketangkasan prajurit wanita mereka pulang.

Tak diragukan, ternyata kualitas para prajurit estri tak kalah dari laki-laki yang bisa dibanggakan atas keterampilannya dalam berkuda dan memegang senjata.

Bahkan hal itu diakui Deler dan beberapa pejabat Belanda lain dari pesisir utara dan timur Jawa sendiri.

Sebagaimana dikutip dalam (Wardhana, 2015), prajurit estri Mangkunegara I sampai mendapat julukan woman dragons. Apa yang diyakini Mangkunegara I mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan telah beliau buktikan dalam bidang keprajuritan.

Dalam Babad Tutur, posisi perempuan yang lemah ini membuat Mangkunegara I prihatin dan mendasari tulisan yang ia tuangkan.

Upaya yang dilakukan Mangkunegara I tak hanya pada bidang militer, namun juga dalam dunia pendidikan dan di semua lini kehidupan. Ia mempercayai bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sejajar, tak ada yang lebih tinggi ataupun rendah.

Pada akhirnya, Babad Tutur merupakan salah satu bukti yang menampik asumsi bahwa jawa mengesampingkan sosok perempuan. Mangkunegara I juga memberikan warna berbeda pada perempuan mengenai aspek gender selama ini, dimana masih terus menjadi hal relevan.

Namun, sebenarnya usaha yang ia lakukan masih menjadi minoritas dalam jagad masyarakat Jawa yang luas saat itu. Sehingga tak bisa dipungkiri apa yang dipraktikan selanjutnya malah mengalami kemunduran, sampai masyarakat pada masa kini gerakan emansipasi perempuan yang dikampanyekan Barat kembali menggema di bumi Nusantara.

Kesetaraan gender yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan di berbagai media, ternyata tidak cukup dipahami hanya pada dibukanya kesempatan kepada kaum perempuan, melainkan masih menyisakan banyak masalah gender.

Dalam tulisan yang Mangkunegara I menjadi salah satu catatan sejarah bahwa perempuan tak hanya dicitrakan sebagai sosok yang mulia, lemah lembut, dan penurut namun juga soosk yang tangguh dan kuat. 

JI

`
Kategori : Gaya hidup
Sumber : berbagai sumber