Menelusuri Stoikisme yang Tengah Populer, Obat dikala Kebahagiaan Tak Mudah Didapat?



Ilustrasi Athena sebagai Dewi Kebijaksanaan Yunani--pixabay.com

JURNALIS INDONESIA - Pasti tak asing lagi dengan istilah Stoikisme. Sebuah aliran Ilmu Filsafat yang sedang booming ini seolah menjadi solusi di tengah kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Sebagian kalangan salah mengartikan stoikisme identik dengan ketidakpedulian terhadap sesuatu yang membuatnya tak bahagia dan hanya berfokus pada kebahagiaan diri sendiri. 

Padahal ajaran stoikisme tak sesederhana dan sedangkal itu.

Tak dipungkiri pembahasan stoikisme ini mudah ditemukan di beberapa platform. Misalnya di Youtube, beberapa konten membahas dan mempromosikan aliran ini.

Belakangan ini, popularitasnya yang tiba-tiba meningkat membuat banyak orang juga tergugah rasa ingin tahunya akan aliran kuno ini.

Salah satu buku yang bisa dijadikan rujukan bagi pemula yang ingin mempelajari ajaran ini, disampaikan dengan baik oleh Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras.

Lantas mengapa banyak orang tertarik pada aliran stoikisme ini? Berikut penjelasannya.

Pada dasarnya aliran kuno ini relevan bagi para pemimpin modern, pekerja, dan orang tua yang sepenuhnya terlibat dalam kehidupan. Dan tidak diperuntukkan bagi beberapa pria tua abu-abu dalam upaya akademis.

Namun, sebenarnya stoikisme lebih kompleks dari apa yang dipahami masyarakat luas sekarang. Butuh pemahaman yang mendalam untuk mengetahui hakikat stoikisme sendiri. Bagi kalian yang ingin memahami stoikisme secara sederhana, berikut penjelasannya berdasarkan Ferry Irwandi yang telah menjadi kaum stoik selama 5 tahun.

Apa itu Stoikisme?

Stoikisme sebenarnya bukan aliran kepercayaan, bahkan agama, melainkan aliran filsafat yang membantu kita untuk mengontrol emosi negatif kemudian melipat gandakan rasa syukur dan kebahagiaan yang kita rasakan. Jika dikaitkan dengan Ilmu Teologi, stoikisme ini tidak tumpang tindih dengan kepercayaan atau agama apapun termasuk. 

"Dan kalau kita masuk ke dalam ilmu teologi stoikisme ini enggak ada tumpang tindih banget dengan kepercayaan atau agama apapun, termasuk agama yang gua anut yaitu Islam, karena di Islam sendiri kan mengajarkannya namanya tawakal, mengajarkan namanya mualaq, mengajarkannya namanya mubram, gitu. Jadi so far yang gue temuin antara aliran filsafat stoikisme dan Islam itu sendiri tidak berbenturan gitu," terang Ferry Irawan.

Stoikisme adalah aliran pikiran yang asalnya dari Yunani kuno di zaman pendudukan Romawi dan dibawa oleh Zeno dari Citium yang terus berkembang sampai saat. Kemudian ajaran dari Zeno tersebut dikembangkan terus oleh Marcus Aurelius yang merupakan seorang Kaisar dan epictetus, seorang budak.

"Ini jadi bisa gua bilang ke teman-teman seisme itu sangat inklusif bukan sebuah aliran pikiran atau aliran filsafat yang hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat tertentu," tegas Ferry Irawan di kanal youtubenya.

Oleh karena itu, stoikisme tak hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat tertentu, namun juga dipelajari oleh Kaisar bahkan pedagang bahkan budak. 

Kemudian, Ferry mendefinisikan stoikisme bahwa hidup terbagi dalam dua dimensi, yang pertama dimensi internal dan dimensi eksternal atau yang dinamakan dikotomi kendali.  

- Dimensi internal, adalah segala sesuatu yang berada dalam kendali diri sendiri secara penuh, seperti kehendak, etos kerja, komitmen, profesionalitas, suara, ataupun aksi. 

- Dimensi eksternal adalah hal-hal yang berada di luar kontrol diri sendiri yang sama sekali tak bisa dikendalikan seperti halnya pendapat dan respon orang lain. 

"Masalahnya adalah manusia pada umumnya menaruh faktor kepuasan dan kebahagiaan itu di faktor eksternal yang mana sebenernya gak bisa dikontrol sama sekali. Nah stoikisme datang untuk menyadarkan kita bahwa faktor kebahagiaan dan kepuasan ini bisa dishifting dari dimensi eksternal ke dimensi internal gitu. Itulah yang menjadi fundamental dari ajaran filsafat ini," terang Ferry.

Seperti yang dikatakan pria yang telah diundang berbagai podcast untuk membahas isu ini, stoikisme datang untuk menyadarkan bahwa faktor kebahagiaan dan kepuasan ini bisa dirubah posisinya yang awalnya pada dimensi eksternal ke dimensi internal.

Sebagai contoh Anda adalah seorang pembuat film pendek, lalu membuat fim tersebut dengan seperti yang Anda inginkan, siapa saja yang terlibat sampai bagaimana bentuk film itu ketika sudah selesai dan tayang.

Semua seharusnya ada di kendali Anda, namun ketika film itu tayang dan orang mengomentari film tersebut dengan memuji filmmu ataupun orang mencaci film tersebut sudah benar-benar di luar kendali Anda.

Ketika Anda menaruh kepuasan dan kebahagiaan melalui dimensi eksternal, mengartikan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hanya akan terjadi ketika Anda mendapat komentar yang bagus.

Namun, ketika faktor kebahagiaan Anda ada di dimensi eksternal, Anda akan bahagia jika film itu tercipta sesuai dengan apa yang direncanakan dari awal. Sehingga Anda akan lebih damai dan tenang menghadapi apapun respon dan tanggapan orang ketika menonton film itu.

Hal ini disebabkan karena rasa puas Anda adalah ketika film itu terwujud sesuai dengan apa yang dibayangkan.  

Stoikisme mengajarkan para penganutnya untuk bersikap rasional dan merespon semua hal dengan rasionalitas. Artinya ketika akan melakukan sebuah tindakan, hal tersebut sudah terpikir apa saja kemungkinan terburuk yang terjadi ketika kita melakukan hal tersebut. Sehingga melakukan yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk adalah kunci dari stoikisme itu sendiri.

Alasan Stoikisme baru populer sekarang

Tak dipungkiri, arus informasi sekarang melaju kencang tak terkendali, yang mana akses informasi akan lebih mudah namun juga memberikan dampak negatif.

Efek dari keterbukaan informasi seperti sekarang akhirnya membuat pola pikir bahwa apa yang salah dari hidup yang sedang dijalani, kenapa kehidupan tak sebaik mereka yang ada di sosial media dan kehidupan nyata. 

Dari fenomena tersebutlah stoikisme seakan menjadi obat bagi orang-orang yang tak puas akan kehidupan yang ia jalani sekarang. Tak ayal jika kepopuleran stoikisme menandakan bahwa masyarakat sudah terlalu lelah dengan konstruksi sosial yang hanya berfokus pada materi saat ini.

Selain itu, stoikisme tak meleber dan rapih sehingga tidak terlalu bersinggungan dengan agama manapun.  Masyarakat pun bisa menerima sebagai nilai dan paham universal dan normal.

Faktanya, stoikisme menjadikan kehidupan yang baik sebagai tujuan yang dapat dicapai oleh semua orang, memotong kelas sosial seperti apakah Anda kaya atau miskin, sehat atau sakit, berpendidikan atau tidak, tidak ada bedanya dengan kemampuanmu untuk menjalani kehidupan yang baik.

"Stoikisme membantu gue menciptakan kebahagiaan dan ketenangan gue sendiri, sekarang itu gue sadar kalau rasa bahagia itu bukan terletak pada seberapa tinggi sebuah pencapaian tapi seberapa rasional sebuah harapan," ucap Ferry Irwandi.

Sepakat dengan apa yang dikatakan Ferry, kaum stoik merupakan bukti hidup bahwa mungkin saja seseorang diasingkan ke pulau terpencil dan masih lebih bahagia daripada seseorang yang tinggal di istana. Mereka sangat memahami bahwa hanya ada hubungan longgar antara keadaan eksternal dan kebahagiaan kita.

Stoikisme justru membantu untuk mendefinisikan apa yang sebenarnya akan dikejar dan membuang semua distraksi-distraksi yang selama ini tak penting. Mempelajari stoikisme dan mempraktikkan ide-idenya bisa sangat berguna di dunia yang menuntut saat ini. Kebijaksanaan filosofi kuno ini tidak lekang oleh waktu, dan nilainya dalam pencarian kehidupan yang bahagia dan bermakna tidak dapat disangkal. 

JI

`
Kategori : Gaya hidup
Sumber : berbagai sumber