Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama di Indonesia dan Penyensoran di Era VOC


Ilustrasi Surat Kabar Pertama di Indonesia-krzysztof-pixabay

JURNALIS INDONESIA – Tak disangka, Surat Kabar masih eksis di Indonesia hingga sekarang. Meskipun peminatnya kian menurun, namun Surat Kabar pernah menjadi primadona yang paling berpengaruh dalam  penyebaran  informasi  di seluruh  dunia zaman dulu.

Seiring masuknya era Revolusi Industri 4.0, Digitalisasi media juga tak bisa dihindari lagi yang mana melanda seluruh belahan dunia. Hal ini juga menyebabkan perombakan besar-besaran dan membawa kesuraman bagi media konvesional terutama surat kabar.

Namun, jika ditelusuri perkembangan surat kabar di Indonesia menarik untuk diulas. Seperti halnya bagaimana surat kabar berdampak bagi informasi yang menyebar luas pada masyarakat zaman dulu. Untuk itu, simak penjelasannya lebih lanjut.

Sebelumnya, surat kabar pertama kali ada di Jerman yang dipopulerkan oleh Johann Guternberg sejak munculnya mesin cetak di Jerman pada tahun 1450. Umumnya, surat kabar berisi tentang berita-berita terkini yang sedang terjadi hingga informasi yang sedang ramai diperbincangkan.

Di Indonesia sendiri, keberadaan surat kabar ditandai dengan perjalanan panjang melalui lima periode, yakni masa penjajahan Belanda (di antaranya Selompret Melayu), penjajahan Jepang, menjelang dan awal kemerdekaan (Berita Indonesia), serta zaman orde lama (Soerabaja Post) dan orde baru (Pikiran Rakyat).

(BACA JUGA:Film Horor dan Citra Budaya Jawa )

Surat kabar yang pertama berdiri di Indonesia bernama lengkap Bataviasche Nouvelles en Politique Raissonnementen pada 7 Agustus 1744 oleh Jan Erdmans Jordens di Batavia.

Menurut beberapa sumber, nama "Bataviasche" diambil dari kata "Batavia", yaitu nama Jakarta pada abad 18, masa di mana surat kabar ini terbit. Selanjutnya, nama "nouvelle" merupakan serapan bahasa Perancis yang berarti novel. 

Pada dasarnya, surat kabar yang diterbitkan dengan bahasa Belanda ini memuat berbagai berita yang dikemas melalui metode periklanan. Upaya promosi yang digunakan bersama surat kabar ini meliputi produk-produk baru untuk menarik minat masyarakat.

Namun, surat kabar Bataviasche Nouvelles ini juga menuai kontroversi yang menyebabkan perizinan baru dikeluarkan pada Februari 1745.

Hal ini dikarenakan pengaruh Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1740, Willem Baron van Imhoff, khawatir akan adanya kritik terhadap pemerintahannya melalui edaran surat kabar tersebut.

(BACA JUGA:Fakta Unik Arti Motif Batik Parang yang Pernah Dipakai Artis Hollywood Jessica Alba, Punya 53 Motif Berbeda)

Oleh karena itu, Gubernur Jenderal Gustaff Willem Baron van Imhoff mengizinkan berdirinya media ini hanya untuk menampilkan citra dirinya yang bermartabat dan manusia berbudaya.

Seperti halnya tak pernah mengambil isu yang sensitif apalagi berkaitan dengan korupsi di VOC. Sensor dari pemerintah pun sangat ketat kepada usaha percetakan, termasuk buku dan koran, karena gubernur jenderal menginginkan citra korup pejabat kompeni hilang.

Berita yang diterbitkan biasanya tentang politik VOC seperti penobatan hingga pemecatan pejabat, informasi perdagangan dan keluar-masuk kapal di Hindia Timur.

Dengan terbitnya koran berskala nasional tersebut, justru mendapatkan antusiasme dari berbagai golongan termasuk VOC sendiri. Bahkan mendapatkan kontrak perpanjangan dari kompeni.

Diceritakan dalam buku "Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia lama di Tepi Muara Ciliwung" karya Thomas B. Ataladjar, Bataviasche Nouvelles resmi berhenti beredar tepat pada 20 Juni 1746. Belum genap dua tahun setelah kelahirannya, surat kabar yang pertama kali terbit ini juga menjadi yang pertama dibubarkan.

(BACA JUGA:Menelusuri Stoikisme yang Tengah Populer, Obat dikala Kebahagiaan Tak Mudah Didapat?)

Meski sempat berhenti, kisah Bataviasche Nouvelles belum berakhir. Surat kabar ini diterbitkan kembali pada bulan November 1809 oleh Verdu nieuws dengan bentuk surat kabar mingguan yang hanya berisi iklan saja.

Awalnya, Bataviasche Nouvelles berukuran lebih kecil dan hanya memuat advertensi. Orang Melayu dan Bumiputera menyebutnya dengan nama Surat Lelang.

Surat kabar yang disensor sangat ketat ini hanya memuat publikasi tentang pelelangan yang diadakan VOC. Iklan lelang VOC dimuat secara gratis, sedangkan para pemasang iklan lainnya harus membayar.

Nama Bataviasche Nouvelles kemudian diubah menjadi Bataviasche Koloniale Courant pada pemerintahan Daendels.

Perubahan ini juga mewajibkan para redaktur untuk membayar pajak dan mendahulukan kepentingan pemerintah dalam muatan surat kabarnya.

(BACA JUGA:Lirik Lagu Bangun Pemuda Pemudi Karya Alfred Simanjuntak, Sebagai Peringatan Hari Sumpah Pemuda)

Perubahan nama dan perubahan fungsi telah dialami oleh Bataviasche Nouvelles, kini, surat kabar ini telah berhenti beredar.

Namun, kisah dan sejarah yang menyertainya tetap merupakan bagian penting dari perjalanan pers di Indonesia.

Pada akhirnya, surat kabar pada saat itu hanyalah sebagai alat para kompeni VOC yang percetakan sangat tergantung pada kebijakan VOC jika bertujuan untuk menguntungkan penguasa.

Dengan demikian, usaha percetakan dan media harus berhadapan dengan kekuatan yang bersifat monopolistik dan tak ingin berbagi kesempatan ataupun kekuasaan dengan pihak lain.

Jika dilihat sejarahnya, Bataviasche Nouvelles mengartikan hubungan antara media, masyarakat dan budaya dalam kehidupan di Indonesia cenderung materialisme. Akibatnya media massa dilihat sebagai ketergantungan pada struktur kekuasaan dan kekuatan ekonomi. 

Sehingga dalam institusi media, informasi tak lain hanya sekedar untuk diperjualbelikan. Segala bentuk produksi pesan tidak lepas dari kepentingan-kepentingan pemilik modal dan kekuasaan politik disekitarnya. 

Kondisi saat ini pun tak jauh beda pada ratusan tahun yang lalu, dimana sistem pers yang terbentuk di Indonesia tidaklah terlepas dari pengaruh dan campur tangan pihak asing, baik langsung maupun tak langsung.

JI

`
Kategori : Nasional
Sumber : berbagai sumber