9 Tokoh Perjanjian Roem Royen dan Isi Kesepakatan Antara Indonesia dan Belanda


Soekarno-instagram @soekarno_presidenkoe-by soekarno_presidenkoe

JURNALIS INDONESIA - Perjanjian Roem Royen merupakan upaya diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari Belanda. Perjanjian Roem-Royen adalah salah satu rangkaian perjanjian yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia setelah Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Nama perjanjian ini diambil dari kedua pimpinan delegasi Indonesia dan Belanda, yaitu Mohammad Roem sebagai delegasi RI dan Herman van Roijen delegasi Belanda.

Perjanjian Roem Royen mulai dilaksanakan pada tanggal 14 April 1949 dan ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes Jakarta. Saat perjanjian Roem-Royen ini berlangsung, sempat berjalan alot. Sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Lantas bagaimana latar belakang dan isi dari kesepakatan perjanjian Roem-Royen ini? Berikut ini kami rangkum dari berbagai sumber.

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen

Perjanjian Roem Royen ini memiliki cerita sejarah yang panjang. Ini bermula pada tahun 1949, ketika terdapat desakan oleh Dewan keamanan PBB  yang membuat Belanda akhirnya melakukan pendekatan politis dengan Indonesia. Hingga akhirnya perdana Menteri Belanda Dr. Willem Dress mengundang Prof.Dr.Supomo untuk melakukan runding. Undangan ini diterima dan ini menjadi pertemuan pertama antara Indonesia dengan Belanda sejak 19 Desember 1948.

(BACA JUGA:7 Isi Perjanjian New York yang Menentukan Nasib Republik Indonesia)

Namun pertemuan ini tidak diumumkan kepada masyarakat luas, hak ini dikerenakan pertemuan ini yang bersifat informal. Pertemuan informal yang lain juga dilakukan oleh utusan dari Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) dengan Presiden Soekarna dan Mohammad Hatta pada tanggal 21 Januari 1949.

Hasil dari pertemuan tersebut juga tidak diumumkan secara resmi, tetapi pada tanggal 19 dan 24 Januari 1949 diberitakan dalam harian Merdeka. Meskipun pertemuan ini tidak resmi, namun pertemuan tersebut mencapai kesepakatan yang terjadi antara RI dan BFO yang disampaikan oleh Moh. Roem.

Hasil kesepakatan ini menyatakan bahwa Indonesia bersedia untuk melakukan diskusi dalam berunding dengan BFO di bawah pengawasan PBB dalam diskusi secara formal. Bung Hatta pada bulan berikutnya di tanggal 13 Februari 1949 resmi mengeluarkan pendapat.

Isi dari argumen ini adalah perundingan dapat terjadi jika sudah dikembalikannya pemerintah RI ke Yogyakarta dan pasukan Belanda ditarik dari wilayah Indonesia sesuai dengan resolusi PBB tanggal 24 Januari 1949. Pendapat Mohammad Hatta ini kemudian disetujui dan didukung oleh delegasi BFO.

Maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia menyetujui terhadap perundingan. Maka dari itu pada tanggal 26 Februari 1949, Belanda mengumumkan akan mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 12 Maret 1949. Dua hari setelah pengumuman KMB, atau tepatnya pada tanggal 28 Februari 1949, Belanda mengutus delegasi yaitu Dr. Koets untuk menemui Ir. Soekarno dan yang beberapa pimpinan yang lainnya di pulau Bangka. Hal Ini bertujuan untuk menyampaikan rencana KMB pada bulan Maret nanti.

(BACA JUGA:30 Kata-kata Status FB yang Lucu dan Memotivasi, Dijamin Dapat Banyak Like)

Pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden Soekarno lalu berbicara dengan BFO mengenai pentingnya pengembalian kedudukan RI untuk syarat diadakannya perundingan sesuai resolusi PBB. Pada tanggal 4 Maret, Soekarno lalu membalas undangan dari Dr. Koets.

Undangan ini ditujukan untuk pemerintah Indonesia. Sehingga Presiden Soekarno menyampaikan bahwa Indonesia tidak perlu ikut berunding jika pemerintahan belum dikembalikan ke Yogyakarta. Dengan demikian, sebelum perundingan terjadi, Belanda wajib dalam mengakui kedaulatan RI.

Pihak BFO juga mengeluarkan pernyataan yang isinya sebuah pemberitahuan bahwa BFO tetap berpegang teguh pada pendirian awal. Tanggal 23 Maret 1949, Komisi PBB untuk Indonesia menyampaikan kepada Belanda bahwa mereka telah bekerja sesuai dengan resolusi PBB dan tidak merugikan tuntuan pada kedua belah pihak.

Peristiwa Perjanjian Roem Royen

Setelah melalui sejumlah perundingan informal, hingga akhirnya pada tanggal 14 April 1949 bertempat di Hotel Des Indes atau saat ini bernama Hotel Duta Melin, Jakarta, kedua negara yaitu Indonesia dan Belanda melakukan perundingan. Perundingan ini berlangsung cukup alot dan sempat terhenti. Ini dikarenakan terdapat perbedaan pendapat yang sangat sengit.

Pada tanggal 24 April 1949 Mohammad Hatta akhirnya datang ke Jakarta, hal ini dikarenakan perundingan yang berjalan lama. Pihak RI lalu menempuh jalan lain yaitu dengan mengadakan perundingan informal secara langsung dengan Belanda yang disaksikan secara langsung oleh Merle Cochran.

Pada tanggal 25 April 1949, Mohammad Hatta dengan ketua delegasi Belanda Dr. Van Roiyen melakukan pertemuan secara informal. Namun hasil pertemuan ini tidak diumumkan kepada masyarakat. Mohammad Hatta menyampaikan bahwa pertemuan ini memiliki tujuan untuk memberikan penjelasan kepada delegasi Belanda.

(BACA JUGA:20 Kata-kata Cinta Romantis, Lucu Serta Tulus yang Dijamin Bikin Bucin)

Hingga akhirnya kedua belah pihak menyetujui pernyataan dari masing-masing pihak dalam hal ini Indonesia dan Belanda. Perjanjian ini kemudian ditandatangani pada 7 Mei 1949 oleh Mr. Moh Roem dari Indonesia dan Dr. Van Roiyen dari Belanda. Persetujuan ini disebut sebagai Perjanjian Roem Royen.
Isi Perjanjian Roem Poyen

Dalam perjanjian ini terdapat dua pernyataan yang dikeluarkan oleh Indonesia dan Belanda. Berikut ini isi Perjanjian Roem Royen.

Isi Penyataan Perwakilan Indonesia

1. Indonesia menyatakan akan mengehentikan Perang Gerilya sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

2. Bekerjasama mengambalikan perdamaian, menjaga keamanan dan ketertiban. Indonesia akan turut serta dalam KMB di Den Haag dengan tujuan mempercepat penyerahan kedualatan dan sebenarnya tanpa syarat.

(BACA JUGA:Personil BTS Akui Miliki Moto Hidup yang Berbeda-beda, Salah Satunya Filosofi Sungai)

Kemudian Belanda melalui Dr.Royen menyatakan:

1. Menjamin penghentian gencatan senjatata dan gerakan-gerakan militer, sekaligus membebaskan semua tahanan politik dan perang.

2. Menyetujui dalam pengembalian Pemerintah RI ke Yogyakarta pada tanggal 24 Juni 1949.

3. Belanda menyetujui RI sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat

4. Belanda tidak akan mendirikan atau mengakui Negara-negara yang berada di daerah yang dikuasai RI sebelum 19 Desember 1949, dan tidak akan melebarkan Negara atau daerah dengan merugikan Republik.

(BACA JUGA:20 Kata-kata Simple Lucu dan Keren, Cocok Jadi Status di Media Sosial )

9 Tokoh di Balik Perjanjian Roem Royen

Keberhasilan perjanjian Roem Royen ini tentunya tidak lepas dari 9 tokoh bangsa Indonesia berikut ini, yaitu:

1. Mohammad Roem

2. Mohammad Hatta

3. Ali Sastro Amijoyo

4. Ir. Juanda

5. Johannes Leimena

(BACA JUGA:Trending YouTube! Ini Lirik Lagu Maulana Ardiansyah - Dermaga Biru)

6. Sri Sultan Hamengkubuwono IX

7. Prof. Supomo

8. A.K. Pringgodigdo

9. Johannes Latuharhary

Demikian penjelasan singkat tentang perjanjian Roem Royen antara Indonesia dan Belanda.

 

JI

`
Kategori : Gaya hidup