3 Agenda Agresi Militer Belanda II, Berikut Kronologi Serangan terhadap Kedaulatan Pemerintah Indonesia


ilustrasi senjata lengkap untuk perang-DariuszSankowski-Pixabay

JURNALIS INDONESIA - Agresi Militer belanda II dikenal sebagai operasi gagak (Operatie Kraai) kali kedua pengkhianatan janji Belanda setelah disepakatinya perjanjian Renville yang dilancarkan kepada Hindia (Indonesia) tepatnya di Yogyakarta yang menjadi Ibu Kota kala itu pada 19 Desember 1948. Setahun berselang setelah gencatan senjata lewat Agresi Militer Belanda Militer I, hubungan Belanda dan Pemerintah Indonesia kembali menegang.

Dilangsungkannya Agresi Militer Belanda II disebabkan Belanda menuduh Pemerintah Indonesia tidak mampu mengendalikan Angkatan bersenjata Indonesia (TNI) dan pelanggaran yang dilakukan Indonesia dalam berbagai poin dalam perjanjian Renville. Sebaliknya, Indonesia menyatakan justru Belandalah yang melakukan politik adu domba seperti pembentukan Negara Federal dan konferensi Federal Bandung. Belanda juga dituduh sering melanggar garis demarkasi militer yang sudah disetujui.

Gagalnya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia lewat Operasi Produk (Agresi Militer I) pada 21 Juli - 5 Agustus 1947, menjadikan alasan Agresi Militer Belanda II demi melangsungkan ambisinya merenggut Hindia guna memulihkan kondisi Belanda yang poranda akibat Perang Dunia II. Adapun agenda dari Agresi Militer II yakni:

1. melumpuhkan kekuasan Pemerintah Indonesia sebagai negara kesatuan.

2. Menculik para petinggi negara Republik Indonesia.

3. mengambil alih Ibu Kota sementara Yogyakarta.

Berikut kronologi mengenal sejarah Agresi Militer Belanda II, yang dapat kalian simak penjelasannya di bawah ini.

(BACA JUGA:Agresi Militer Belanda I Incar 3 Provinsi Ini Jadi Target Utama, Berikut Kronologis dan Penyelesaiannya)

KRONOLOGI

Belanda di bawah pimpinan Jendral Simon Spoor menginstruksikan seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatra untuk memulai penyerangan yang berlangsung pada 19-20 Desember 1948. Adapun titik sasar Belanda adalah Ibu Kota Sementara Yogyakarta. Saat fajar belum nampak sekitar 05.45 WIB, terdengar ledakan bom di wilayah sebelah timur kota Yogyakarta, tepatnya di Wonocatur dan Maguwo, mendadak mengubah suasana Yogyakarta menjadi mencekam.

Sebelumnya, melalui siaran radio Antara di Jakarta menyebutkan Wakil Mahkota Belanda, Dr. Beel menyampaikan pidato penting pada 18 Desember 1948 pukul 23.30, yang memuat bahwa Kerajaan Belanda tidak lagi terikat pada kesepakatan perjanjian Renville. Oleh sebab itulah keesokan paginya pasukan Belanda menyerang. Tidak butuh waktu lama bagi tentara belanda yang dibekali peralatan perang canggih untuk merangsek masuk ke dalam Yogyakrta dan menguasai pangkalan udara Maguwo. 

Banyaknya jumlah korban di pihak Indonesia dan direbutnya pangkalan udara Maguwo, membuat Belanda semakin leluasa bergerak dan menduduki Yogyakarta sekaligus menangkap pemimpin negara Republik Indonesia seperti Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Sjahrir Agus Salim, Mohammad Roem, dan AG Pringgodigdo. Mereka diterbangkan dan diasingkan ke Pulau Sumatera dan Pulau Bangka.

(BACA JUGA:Latar Belakang Sejarah Konferensi Meja Bundar (KMB), Ini 2 Poin yang Diingkari Pihak Belanda)

Meski diketahui para Pemimpin RI ditangkap, hal tersebut tak menggoyahkan hati rakyat Indonesia. Tentara Negara Indonesia, Laskar, beserta segenap rakyatnya menyambut belanda dengan ganas. Inilah yang dikenal sebagai serangan umum 1 Maret 1949 (Operasi Geriliya Rakyat Semesta). Di bawah pimpinan Jendral Soedirman yang tengah sakit keras, menginstruksikan pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah melakukan strategi wingate (menyusup ke belakang garis musuh) long march dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.

Sementara itu, Soekarno telah lebih dulu berkorespondensi dengan Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegara memberi kuasa untuk membentuk pemerintahan darurat sementara. Syafruddin pun berhasil membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpinnya di Bukittinggi, Sumatera Barat. Peralihan pemerintahan ini bertujuan agar Republik Indonesia tidak berhenti dan terus menyusun strategi melawan Belanda.

Belanda yang masih terus melangsungkan agresinya di Indonesia mendapat kecaman dunia Internasional, bahkan Amerika serikat sempat memotong bantuan pendanaan kepada Belanda karena dianggap tindakannya dapat menganggu kedamaian dunia. Berkat bantuan dari Burma, Perdana Menteri India, Jawaharlal Pandit Nehru, mengadakan inisiatif Konferensi Asia di India yang dihadiri oleh 19 Negara (empat sebagai peninjau yaitu: China, Thailand, Nepal dan Selandia Baru; dan 15 sebagai peserta penuh yaitu: Afganistan, Australia, Burma, Sri Lanka, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Filipina, Arab Saudi, Siria, dan Yaman).

Konferensi tersebut digelar dengan maksud untuk memberi dukungan politik dan moril bagi perjuangan rakyat Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya. Tindakan Belanda juga dianggap menggangu perdamaian. Hingga digelarnya perjanjian Roem Royen pada 7 Mei 1949 dan berlanjut Konfrensi Meja Bundar di Deen Hag pada 23 Agustus - 2 November 1949. Membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih ada dan sanggup berdiri sebagai negara merdeka, Kerajaan Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI secara utuh pada 27 Desember 1949.

(BACA JUGA:7 Isi Perjanjian New York yang Menentukan Nasib Republik Indonesia)

JI

`
Kategori : Gaya hidup
Sumber : berbagai sumber